PHP KUADRAT!!!

Sewaktu liburan kemarin berlangsung dalam hidup gue, gue merasa senang (ya, mungkin senang), apa alasannya?
Pertama, gue bisa nonton film keren di tv. Kedua, sodara dari bogor dan Palembang dateng untuk menghadiri acara pernikahan mba sepupu. Gue senang karna biasanya kalo sodara dateng berhubungan dengan memberi uang jajan, keminiman uang pada saat sodara jauh dateng berbanding lurus dengan harapan yang ditaruh padanya. Gitu.

Beberapa minggu sebelum acara pernikahan diselenggarakan, sodara dari Palembang datang di suatu sore hari, merekapun  pun salam-salaman, ngobrol-ngobrol, gue pengen tabok-tabokan tapi takut dibacok, akhirnya gue juga salaman dan memberi senyum sambutan kepada keluarga yang baru datang dari Palembang.

Di malam hari, Kami semua makan malam bersama, makanan yang di hidangkan sangat menarik dan akan menggugah selera siapapun orang yang lapar,  bau nya terasa enak menghiasai hidung. Makan bersama kali ini di sponsori oleh rintikan hujan yang terlihat malas turun ke muka bumi, tapi tentu gue tidak mepedulikan hujan diluar, gue hanya focus terhadap makanan.
‘Makan yang kenyang dek’ kata tante dari Palembang
‘oh, tentu’ kata gue mantap, tanpa disuruh juga pasti gue akan mengenyangkan diri.


Setelah makan bersama yang nikmat ini berlangsung secara sukses, gue langsung menonton tv sambil terkadang ngobrol bareng . Tak disangka, rintikan hujan yang terlihat malas turun itu membuat suasana menjadi dingin, dan saat itu juga mati lampu secara mendadak, suasana menjadi horror.

Gue pergi kearah kulkas, untuk mengambil handphone yang gue taruh di atas kulkas untuk menyalakan flashlight . Suasana gelap, Tentu saja gue tidak tahu arah dan berjalan secara brutal dan ngasal, gue sempat menabrak pintu, kemudian gue berputar-putar menentukan arah dan gue jalan lagi, kemudian gue nabrak pintu yang sama lagi.

Belum sempat sampe kulkas, lampu kembali menyala, kami semua senang dan gembira, kami merayakan ini dengan minum air putih masing-masing saat haus.

Suasana dingin itu masih saja menyelimuti tubuh ini, dan keesokan harinya gue terserang flu dengan sukses. Tentu saja gue merasa tak nyaman, setiap saat harus bernafas dengan suara berirama patah-patah.

Saat sedang asik memikirkan bagaimana cara membuat suara ingus menjadi seperti alunan piano yang dimainkan Roma Irama, tiba-tiba seorang laki-laki membuyarkan lamunan gue, dia mendekati gue, gue tersipu malu, dia memasukkan tangan ke saku celananya, gue menutup resleting yang terbuka. Kemudian gue menatap wajahnya, dia juga menatap wajah gue, kami saling curi-curi pandang penuh arti. Ternyata setelah  gue sadari dia adalah seorang om gue dari Palembang.

Gue menyapanya.

‘Hai om *srooott*’ sapa gue sambil mengalunkan suara ingus.

Om gue tersenyum dan mengeluarkan satu kertas uang dua puluh ribu perak, dalam hati gue senang, saat-saat yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, walau hanya 20000 perak, sudah cukup untuk ke WC berbayar 10x untuk menuntaskan tugas suci, dan dalam hati gue seneng.  Tapi gue tetap bersikap sok biasa saja.

Om gue menyodorkan uangnya. Hati gue menangis bahagia. Bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaa (kayaknya waktu itu gak selebay ini)

‘Uang untuk apa om?’ tanya gue sok tidak tahu apa-apa.
Tiba-tiba om gue hendak berbicara sesuatu, dan gue siap-siap bilang terimakasih!

‘Beliin rokok surya’ katanya santai.
‘Oke, om!’ gue merasa di-PHPin sama oom sendiri.

Saat berjalan, gue memikirkan dan menghitung-hitung, untuk membeli sebuah rokok yang diminta, perlu uang 15000, sedangkan gue membawa 20000, berarti masih tersisa lima ribu perak. Dan gue optimis om gue akan memberi minimal lima ribu perak tersebut. Saat sudah membelikan rokok yang diminta, gue langsung kembali dan segera menyerahkan rokok itu.
‘Ini om, rokoknya’ kata gue sambil menyerahkan rokok dan uang kembalian, berharap oom gue bilang ‘uang sisanya buat kamu aja’

Tapi………….

‘Makasih ya’ kata om gue sambil mengambil rokok dan uang harapan.

Jahat.

Beberapa hari kemudian, sodara dari bogor juga datang. Seperti biasa, gue langsung salam-salaman sambil sesekali mengeluarkan suara berirama patah-patah (baca : ingusan). Di hari itu juga, temen SMP gue mengajak kumpul kerumahnya.
Merasa bosan dirumah, gue langsung meng-iya-kan ajakannya. Gue mengirim pesan BBM ke grup Alumni kami .
Nanti kalo gw gak bawa motor, Jemput di Perempatan ya.

Dan mereka meng-iya-kan permintaan gue. Disaat bersamaan, temen gue sms, Sebut saja namanya “Kliwon”

Kliwon : Rud, ikut gak?
Gue : Ikut
Kliwon : bareng ya, naek angkotnya..
Gue : gw mau naek motor aja, skrng masih dipake bapak,  nunggu bpk plg dulu.
Kliwon : yaudah bareng.

Setelah satu jam menunggu (16 menit bengong, 43 menit tengkurep, 1 menit cuci muka) , bapak gue belum pulang juga. Si Kliwon mulai gupek tanya sama gue, dan gue cuman bisa jawab “Sabar ya”. Tapi karena Si Kliwon udah gak sabaran, gue resmi naik angkot bareng dia, meninggalkan keluarga dari bogor di rumah gue.

Di dalem angkot, Si Kliwon protes karena gue terlalu lama membuat dia menunggu, sempat gue bacakan alfatihah biar dia tenang.
‘Lo kira gue setan’ bantahnya.

Sesampainya di perempatan, gue dan si kliwon membayar 3ribu untuk ongkos angkot, pertama si kliwon membayarnya dengan uang 10000, kemudian gue membayar dengan uang 5000.

'Dek, ini ongkos berdua aja ya' kata supir angkot sambil memberikan uang 5000, si Kliwon mengambil dengan bangganya, kemudian angkot sudah berlalu.
'murah ya rud, cuman 5000 dua orang' kata si Kliwon tertawa bahagia.
'ITUKAN SAMA AJA KITA BAYAR 5000 SATU ORANG!!!'
'Oiya ya' kata si Kliwon setelah menyadari, wajahnya tampak dipenuhi penyesalan yang mendalam. Dalaaaaaaaaaaaaaaaammmmmm.

berusaha melupakan tragedi yang baru saja terjadi, gantian si Kliwon yang mengirim pesan BBM.
Jemput gue dan rudi ya, di perempatan

Beberapa saat kemudian mereka membalas.
Kitaorang di orange, karokean, kesini aja ngangkot lagi.

‘Ah bangke, udah capek-capek mandi, ganti baju, ngangkot kesini,malah di tinggal, kayak gini mah mending gw lari-larian pake bikini’ kata si Kliwon, membuat gue kagum.

Bisa gue bayangkan, dia dari rumah memakai bikini dengan motif bunga-bunga terus lari-larian di pinggir jalan menuju perempatan ini dengan alunan lagu india dari hape nya, terus setelah sampe di perempatan dia ngubek-ngubek comberan, siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa geli. Cukup sampai disini gue membayangkan si Kliwon pake bikini, terlebih lagi, si Kliwon adalah cowok.

‘Rud’ kata si Kliwon sambil menatap gue, raut wajahnya yang berapi-api menunjukkan kalau dia sudah siap menyeruduk apapun yang ada di depan matanya. Gue langsung beralih ke samping badannya.

‘Kita pulang aja yok rud’
‘yok’ kata gue tanpa berpikir panjang.


Gue merasa di PHPin lagi, keberadaan gue dan si Kliwon disini bagaikan selingkuhan yang tidak dianggap *sroootttt*

1 komentar :

Write komentar
17 Januari 2015 pukul 16.50 delete

Ingus merosot..

PHP pun terjadi wkaokokaokaoka :'v


kunjungannya ya gan :v
http://caesparta.blogspot.com/2015/01/wujud-asli-hantu-pohon-ketapang.html

Reply
avatar